Lasminingsih's Blog

Just another WordPress.com weblog

CARA GURU MEMBERIKAN PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PERLU DIEVALUASI? Sebagaian siswa ataupun orang tua siswa menganggap pelajaran pendidikan jasmani / olah raga adalah sekedar untuk tambahan pelajaran yang tidak terlalu berarti untuk peningkatan kualitas siswa dalam pembelajaran. Ada pula yang menganggap pelajaran olah raga sekedar biar badan sehat. Apakah benar pernyataan tersebut? Coba kita lihat dengan seksama Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pelajaran olah raga khususnya di tingkat SMP. SK dan KD mata pelajaran pendidikan jasmani banyak meminta guru untuk memberikan nilai nilai kehidupan melalui olah raga, tetapi dalam pengamatan justru para guru banyak menekankan pada mengajaran jenis olah raga itu sendiri bukan menanamkan nilai nilai kehidupan melalui olah raga tersebut. Contoh yang konkrit dapat dilihat dari beberapa sekolah bahkan hampir semua sekolah dalam pembelajaran olah raga, guru guru mereka hanya mengajarkan cara bermain volley atau cara bermain basket. Guru guru tersebut menginginkan siswa siswa mereka menjadi pemain basket atau pemain volley yang handal. Guru guru mereka lupa bahwa tidak setiap siswa menyukai atau memiliki talenta bermain basket atau volley. Coba kita cek dan recek SK dan KD mata pelajaran PENJASKES tersebut apakah mereka memang dihantar untuk menjadi pemain basket atau volley, tidak bukan; tetapi yang pasti mereka dihantar untuk memiliki nilai nilai kehidupan yang benar, contoh nilai kebersamaan, nilai tanggung jawab, nilai saling menghargai, dan lain lain. Hal inilah yang sering dilupakan oleh para guru penjaskes. Dan dampak dari ini semua, kita dapat lihat bahwa setelah mereka lulus dari SMP, untuk mata pelajaran penjaskes, mereka tidak dapat apa apa. Mereka tidak jadi atlit atau pe,main olah raga yang profesional dan mereka juga tidak mendapatkan atau memiliki nilai nilai kehidupan yang mereka butuhkan kelak kalau mereka dewasa. Persoalan persoalan diatas menggugah penulis untuk angkat bicara dan memberikan masukan masukan yang mungkin dapat memberikan sedikit solusi yang bermanfaat bagi siswa siswa kita. Pengalaman penulis saat studi banding di Wales, Uk Saya berada di wales selama 7 hari untuk melihat kegiatan olah raga di sana. Saat saya berada di sana, saya sangat kagum melihat para guru di sana dalam memberikan pembelajaran olah raga di sana. Kita pasti tahu bahwa negara Wales adalah negara dimana banyak atlit atlit dunia lahir dan digodok di sana. Pada pelajaran olah raga guru tidak mengajarkan jenis olah raga tertentu, mereka diajarkan bermain main dengan gerakan olah raga sambil memasukkan nilai nilai kehidupan. Jadi pembelajarannya menggunakan teknik ‘joyful learning’. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan konsep yang benar sehingga unsur kesehatanpun diperhitungkan. Dan yang membuat saya tambah kagum setiap pelajaran olah raga suasannya sangat meriah dan selalu dilakukan dengan model turnamen turnamen, termasuk acara ceremonialnya juga. Anda pasti bertanya, terus kapan mengajarkan jenis olah raga yang sesungguhnya. Olah raga yang sesungguhnya tidak selalu diikuti oleh semua siswa. Siswa dapat memilih jenis olah raga yang diminati dan dimampui saja, sehingga mereka cara berlatihnya menjadi sangat profesional. Dari sinilah akhirnya banyak tumbuh pemain pemain olah raga yang handal serta profesional. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelajaran olah raga tidak dapat diajarkan sesuai keinginan gurunya saja tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan dan bakat siswa secara individual; tetapi secara umum mereka diajarkan bermain main dalam olah raga. Dengan pengalaman saya melihat pembelajaran olah raga di Wales, menggugah saya untuk para guru olah raga di Indonesia supaya mulai mengubah cara pembelajaran mereka agar setelah mereka lulus dari SMP, mereka mendapatkan sesuatu yang berharga untuk hidupnya ke depan. Amin. March 8, 2011

Filed under: artikel ilmiah — lasminingsih @ 11:15 am
 

PERLUKAH ADA MATERI PENDIDIKAN BERKARAKTER UNTUK ANAK DIDIK KITA? April 20, 2010

Filed under: artikel ilmiah — lasminingsih @ 5:00 am

Kondusi sebagian siswa saat ini sangat memperhatikan, banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan. Mereka kurang menghargai guru. Mereka tidak menghargai orang tua mereka. Mereka juga tidak memperdulikan materi pelajaran yang sedang mereka terima. Mereka kurang peduli dengan masa depan mereka. Siswa- siswa yang lebih memilih pergi ke mall dari pada mengikuti pelajaran di sekolah. Dan lebih runyam lagi, mereka melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab baik itu untuk dirinya, keluarganya, maupun nusa dan bangsanya. Contoh yang lain yang perlu perhatian kita semua adalah mereka lebih senang dan bangga kalau dalam menyelesaikan sebuah masalah adalah dengan kekerasan, perkelahian, dan tawuran-tawuran. Ini semua dapat kita lihat dari informasi-informasi yang ada di media cetak maupun media elektronik.

Mari kita berpikir jernih dan obyektif. Jangan hanya mereka yang kita salahkan. Mari kita para orang dewasa untuk berintropeksi diri. Banyak hal-hal yang tanpa kita sadari kita telah member contoh-contoh yang kurang baik pada mereka. Saat ini mereka dikelilingi oleh contoh-contoh yang kurang baik untuk pembentukan pribadi yang baik. Hal itu dapat dilihat dari pola tingkah laku para orang-orang dewasa dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Banyak orang-orang dewasa, orang-orang pintar, orang-orang berpendidikan, orang-orang di atas sana, dalam menyelesaikan sebuah persoalan tidak dengan baik-baik, sopan , santun, tapi dengan debat kusir, teriak-teriak tanpa control dan yang lebih parah lagi mereka melakukan tindak kekerasan, saing menyalakan orang lain tanpa kesopan satunan. Ini adalah contoh yang dilihat siswa yang sangat kurang baik bagi mereka.

Masalah tersebut bukan masalah sederhana. Ini adalah masalah komplek.  Oleh karena itu hal ini tidak dapat diselesaikan sendiri oleh para pendidik. Semua pihak, yaitu  sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus ikut berpartisipasi dalam penyelesaian masalah ini.

Kita sebagai seorang pendidik, mari kita bekerja dan berjuang melalui area kita saja sebagai tanggung jawab kita sebagai pendidik.  Ada beberapa masukan dari para pakar bahwa sangatlah perlu ada materi titipan pada setiap mata pelajaran yang ada dengan materi ‘ pendidikan berkarakter’. Mereka berpendapat bahwa kalau siswa memiliki karakter atau budi pekerti yang baik, mereka akan menjadi orang yang teguh, tidak tergoyahkan oleh pengaruh-pengaruh negatif dari manapun.

Pendidikan tanpa karakter sama dengan menjadikan manusia pintar tak bermartabat. Siswa atau anak perlu diberi contoh, permodelan, penguatan dari orang dewasa. Oleh karena itu pada satuan pendidikan perlu diberikan pendidikan karakter dalam setiap mata pelajaran. Sekolah juga perlu member informasi tentang pendidikan berkarakter pada orang tua siswa / parenting. Akan lebih sukses negeri ini kalau setiap lini kehidupan ada pendidikanberkarakter. Contoh :

  • Mendidik siswa menjadi jujur
  • Mendidik siswa peduli pada orang lain
  • Mendidik siswa sadar akan pentingnya kebersihan
  • Dll

Memang kita wajib bersyukur sebab kita sudah hidup dalam era reformasi, dimana keterbukaan terjadi. Kita bisa berekspresi apa saja, termasuk siswa-siswa kita. Tapi yang menjadi dampak negative adalah sopan santun diabaikan. Mereka tidak segan-segan menyakiti orang lain demi mengekspresikan keinginnannya. Sehingga banyak siswa yang saling tidak menghargai diantara mereka. Mereka saling menyalahkan. Mereka saling menjatuhkan akhirnya.

Orang tua siswa mulai kurang mampu menjadikan anak mereka anak yang berkualitas baik. Sekolah mulai tidak berdaya menyelesaikan sendiri dan sekolah seringkali hanya menjadi kambing hitam saja. Oleh karena itu persoalan ini harus ada solusinya. Sekolah jangan hanya sebagai transfer of knowledge saja, tetapi juga transfer of character. Pembelajaran harus disampaikan secara holistic.

Reformasi pendidikan sangat diperlukan saat ini. Kita perlu membangun kembali jati diri bangsa melalui pendidikan agar kita dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbudi luhur.  Caranya sekolah harus dapat mengubah dari ‘surface learning’ menjadi ‘deep learning’, dari written curriculum oriented menjadi hidden curriculum oriented.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa materi ‘pendidikan berkarakter’ sudah harus mulai diterapkan. Hal ini tidak dapat ditunda-tunda. Siswa-siswa kita perlu penguatan segera. Kita perlu menjadikan masa depan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan punya kesopan santunan. Dan akhirnya tidak akan ada lagi pertengkaran, perkelahian, tawuran di negeri ini. Setiap persoalan akan diselesaikan dengan bijak dan santun. Kalau ini terwujudkan, dapat diyakini negeri ini akan menjadi negeri yang damai sejahtera. Semoga. Amin.

 

SEBAGAI GURU, APA KITA SUDAH MAMPU MENJADI TELADAN MEREKA? April 20, 2010

Filed under: artikel ilmiah — lasminingsih @ 4:57 am

Guru sering diasosiasikan sebagai yang digugu dan ditiru. Artinya guru selalu diposisikan sebagai sosok yang patut diteladani  oleh anak-anak muridnya dari berbagai aspek. Menjadi seorang  guru tidaklah cukup hanya mengajar saja, karena fungsi sebagai pendidik belumlah tercakup dengan sempurna lewat transfer ilmu saja.

Seorang guru juga harus memperhatikan mengenai pengajaran moral, etika, tata krama dan lain-lain,     yang akan sangat berguna bagi perkembangan moral dan mental si anak. Guru pun dituntut untuk memberi keteladanan lewat sikap, tindakan dan perbuatan mereka. Jika apa yang mereka ajarkan berbeda dengan sikap yang mereka tunjukkan di sekolah.      Menjadi teladan, itu artinya menjadi sosok yang patut ditiru, dijadikan panutan oleh orang lain, atau menjadi role model.

Ada beberapa hal yang perlu kita  lakukan supaya dapat menjadi teladan para siswa, yaitu :

  1. Berusahalah tampil di muka kelas dengan rapi an menarik di mata siswa
  2. Selangkah masuk ke ruang kelas, tatap muka mereka semua dan tebarkan senyum penuh kasih dan damai
  3. Sebelum memahas materi yang akan disajikan, yakinkan diri anda sudah menguasai  betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa.
  4. Jangan pernah berbicara tanpa landasan teori yang ada
  5. Atur intonasi suara kita, kapan sangat keras, keras, tidak keras; tetapi yakinkan suara kita jelas di telinga siswa
  6. Berlakulah adil dan bijaksana, yakinkan semua siswa merasa diperlakukan sama baiknya dengan kita, baik itu siswa pintar atau kurang pintar, kaya atau tidak kaya.
  7. Kita harus menyadari bahwa setiap siswa mempunyai keunikannya masing-masing. Lakukanlah mereka secara individual, jangan disama ratakan.
  8. Kita harus sabar apapun keadaannya. Jawablah semua pertanyaan-pertanyaan siswa agar mereka puas.
  9. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.
  10. Berusahalah selalu ceria di muka kelas.
  11. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.
  12. Jangan pernah emosi saat pembelajaran
  13. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku siswa.
  14. Ingat siswa yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emosinya.
  15. Ingat siswa yang kita ajar berasal dari berbagai kondisi dan situasi, artinya mereka berbeda polah asuhnya. Artinya jangan sampai kita salah memperlakukannya agar tidak berdampak negative.
  16. Untuk mengembangkan nalar siswa perlu suasana kondusif di ruang kelas.
  17. Ingat kita manusia biasa, punya keterbatasan; oleh karena itu berpikirlah seribu kali kalau ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan siswa
  18. Untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, jangan pernah berhenti belajar. Materi yang kita terima dulu sudah tidak berlaku untuk pembelajaran saat ini.
  19. Beri nilai seobyektif mungkin pada semua siswa kita
  20. Jangan pelit memberi pujian pada siswa yang berhasil, tetapi jangan ada hukuman bagi siswa walau dia membuat kesalahan.

Kalau ke-20 poin ini dapat kita terapkan dengan benar, dapat diyakini semua siswa akan menyukai kita. mereka akan melakukan apa yang kita mau.  Mereka akan bersemangat dalam belajar dan mereka akan mengidolakan kita sebagai gurunya sebab kita mampu mengerti kebutuhan mereka. Mereka juga nyaman berada di dekat kita. Dan dari sinilah kita sudah dapat disebut menjadi teladan mereka. Tinggal sekarang kita melihat diri kita masing-masing, sudah berapa poinkah yang sudah kita lakukan? Dan kapan kita dapat melakukan semuanya. Jawaban hanya pada anda sendiri-sendiri.

 

UJIAN NASIONAL JANGAN PERGI, TAPI …………… April 19, 2010

Filed under: artikel ilmiah — lasminingsih @ 5:10 am

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 pasal 58 ayat 1, yaitu : Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Tetapi kenyataannya sekolah tidak memiliki 100% secara utuh dalam kewenangan untuk meluluskan siswa siswanya.

JAKARTA, KOMPAS.com -, tanggal 1 Desember 2009,  Ujian nasional sebaiknya tetap dilaksanakan, tetapi fungsinya diubah. Ujian nasional bukan lagi sebagai penentu kelulusan siswa, tetapi untuk memetakan mutu sekolah. Sekolah yang kualitasnya rendah harus diintervensi pemerintah agar kualitasnya meningkat.

Demikian pendapat S Hamid Hasan, ahli evaluasi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung; Ferdiansyah, anggota Komisi X DPR RI; serta Yonny Koesmaryono, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB). Menurut Hamid Hasan, pemerintah harus berpegang pada standar pendidikan yang telah dibuat. UN diselenggarakan untuk mengetahui apakah standar pendidikan tersebut sudah tercapai atau belum oleh sekolah.

Pendapat tersebut didukung dengan fakta di lapangan dari tahun ke tahun Ujian Nasional menjadi ‘momok’ bukan hanya bagi para siswa, tetapi juga guru dan orang tua. Mereka takut kalau siswa siswa tersebut tidak lulus. Masyarakat beranggapan bahwa makin banyak yang lulus, maka harga diri sekolah makin tinggi. Kalau ada siswa yang tidak lulus, dianggap siswa tersebut menjatuhkan harga diri sekolah. Sekolah terbaik ukurannya sekolah tersebut selalu meluluskan siswa siswanya dengan nilai tinggi. Hal inilah menjadikan segala cara akhirnya dilakukan agar semua siswa siswanya lulus. Tim sukses mulai bermunculan. Guru mulai tidak dapat membedakan mana yang seharusnya dilakukan dan yang mana yang tidak boleh dilakukan. Guru melakukan itu semua karena mereka merasa ada beban moral kepada kepala sekolahnya. Mestinya yang seharusnya dilakukan guru bukan mencari cara apapun agar siswanya lulus, tetapi seharusnya mereka meningkatkan kualitas mengajarnya.

Penilaian pembelajaran siswa dalam KTSP adalah berbasis konstruktivisme dimana penilaian pembelajaran tidak hanya ditujukan untuk mengukur tingkat kemampuan kognitif semata, tetapi mencakup seluruh aspek kepribadian siswa, seperti: perkembangan moral, perkembangan emosional, perkembangan sosial dan aspek-aspek kepribadian individu lainnya. Demikian pula, penilaian tidak hanya bertumpu pada penilaian produk, tetapi juga mempertimbangkan segi proses. Jadi nilai siswa tidak hanya diambil dari nilai ulangan tulis saja tetapi saat proses pembelajaran guru dapat melakukan penilaian.

Dari keterangan di atas, dapat  juga dilihat criteria kelulusan yang terjadi saat ini adalah Ujian Nasional sebagai penentu utama kelulusan. Memang UN lulus kalau Ujian Sekolah tidak lulus, siswa tidak lulus; tetapi UN tidak lulus dan ujian sekolah lulus, siswa juga tidak lulus. Pedahal kenyataannya sangat jarang siswa tidak lulus dalam ujian sekolah sebab materi ujian sekolah  sangat sesuai dengan materi yang diberikan gurunya dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah masing masing. Dari sini dapat dilihat kalau Ujian Nasional merupakan penentu utama kelulusan, maka Ujian Nasional sangat bertentangan dengan KTSP.

Menurut Drs. Nurkolis, MM, Berdasarkan MBS tugas-tugas manajemen sekolah ditetapkan menurut karakteristik-karakteristik dan kebutuhan-kebutuhan sekolah itu sendiri. Oleh karena itu warga sekolah memiliki otonomi dan tanggungjawab yang lebih besar atas penggunaan sumber daya sekolah guna memecahkan masalah sekolah dan menyelenggarakan aktivitas pendidikan yang efektif demi perkembangan jangka panjang sekolah (Yin Cheong Cheng, School Effectiveness & Scool-Based Management: A Mechanism for Development, Washington D.C: The Falmer Press, 1996, h. 44.) Model MBS yang diterapkan di Indonesia adalah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Konsep dasar MPMBS adalah adanya otonomi dan pengambilan keputusan partisipatif. Artinya MPMBS memberikan otonomi yang lebih luas kepada masing-masing sekolah secara individual dalam menjalankan program sekolahnya dan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi. Selain itu dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan keputusan harus melibatkan partisipasi setiap konstituen sekolah seperti siswa, guru, tenaga administrasi, orang tua, masyarakat lingkungan dan para tokoh masyarakat (http://re-searchengines.com/nurkolis4.html, diakses tanggal 15 Desember 2009, pukul 19.45 )

Dari keterangan tadi, dapat dilihat kalau Ujian Nasional masih merupakan penentu utama kelulusan, maka Ujian Nasional sangat bertentangan dengan MBS.

Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan kalau hasil ujian nasional tidak dapat digunakan untuk pemetahan kualitas pendidikan di Indonesia. Hasil ujian  hampir dikatakan tidak valid. Untuk mengembalikan kedudukan ujian nasional sesuai UU no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, perlu ada peninjauan kembali criteria kelulusan. Dan poin yang paling penting JANGAN JADIKAN HASIL UJIAN NASIONAL SEBAGAI KRITERIA KELULUSAN. Dan usulan penulis sebagai berikut :

  1. Ujian nasional tetap harus diadakan dengan nilai berapapun tetap lulus asal hasil ujian sekolah sesuai criteria kelulusan yang ditentukan , yang telah disepakati bersama baik secara regional maupun nasional. Dan ujian sekolah untuk semua mata pelajaran.
  2. Ujian nasional berfungsi sebagai pemetaan kualitas pendidikan di Indonesia dan merupakan prasyarat untuk kelulusan

Dengan mendudukan Ujian Nasional seperti uraian di atas, maka dapat diyakini :

  1. Tidak akan ada lagi kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional
  2. Tidak aka nada lagi Tim Sukses untuk Ujian Nasional
  3. Siswa, guru maupun orang tua tidak akan lagi mendewakan / mensakralkan Ujian Nasional
  4. Siswa, guru maupun orang tua tidak akan stress lagi memikirkan Ujian Nasional

MARI KITA SIAPKAN SISWA SISWA KITA UNTUK BERSUKA CITA DAN BERDAMAI SEJAHTERA DALAM MENYAMBUT UJIAN NASIONAL.

 

TPP, MENJADIKAN GURU KAYA HARTA ATAU KAYA ILMU? April 19, 2010

Filed under: artikel ilmiah — lasminingsih @ 5:07 am

Guru adalah pemeran utama dalam sebuah pendidikan. Mereka sangat dominan terhadap maju mundurnya sebuah pendidikan dalam satuan pendidikan. Bagaimana produk-produk pendidikan tersebut terbentuk tergantung pada kemana pendidikan tersebut dibawa oleh seorang guru.

Dengan diterimanya TPP, guru merasakan ada rejeki jatuh dari surga. Hidupnya mulai ada perubahan dari hidup pas-pasan menjadi hidup cukup. Dan lagi yang menjadikan angin surga bagi guru adalah akan diterimanya TPP tersebut langsung include dengan gaji yang diterimanya setiap bulan.

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah dampak apa yang dapat dirasakan siswa setelah guru menerima TPP tersebut. Dan adakah peningkatan secara signifikan kualitas pendidikan di Indonesia? Oleh karena itu mari kita lihat apa TPP itu dan apa tujuan pemerintah memberi TPP pada guru. TPP adalah tunjangan professional guru dan tujuan pemerintah memberikan TPP pada guru adalah meningkatkan kualitas guru dan juga meningkatkan kesejahteraan guru

Meningkatkan kesejahteraan guru sudah pasti dapat dievaluasi dari diterimanya TPP tersebut, tetapi bagaimana mengevaluasi peningkatan kualitas guru. Guru adalah identik dengan kegiatan belajar mengajar, baik itu di kelas maupun di luar kelas. Jadi guru yang professional dapat dibuktikan, dengan cara bagaimana dia merancang serta mengelola pembelajaran. Semakin baik perencanaan serta pengelolaan pembelajaran, dapat dipastikan semakin baik pula kualitas produk-produk pendidikan yang telah dia kelola. Sangat mudah untuk membuktikan guru yang profesional serta berkompeten. Bukan lembaran kertas ataupun buku administrasi yang lengkap dan kemudian menyebut guru tersebut sangat berkompeten dan profesional.

Idealnya setelah TPP diberikan pada semua guru, pendidikan di Indonesia akan sebagai berikut :

  1. Martabat guru meningkat, tidak ada lagi guru dilecehkan, tidak ada lagi guru melakukan hal hal yang merusak citranya.
  2. Semangat guru untuk meningkatkan kualitasnya makin bertambah. Guru mulai banyak yang ingin melanjutkan sekolahnya. Banyak guru yang ingin mengikuti pelatihan-pelatihan tanpa dipaksa, dan banyak guru yang sadar diri menambah ilmunya melalui baca buku atau mengakses dari internet.
  3. Tidak ada lagi guru yang gagap tehnologi. Sudah menjadi tuntutan siswa untuk mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan IT
  4. Guru mampu menaikan standar lulusan pada satuan pendidikan melalui Ujian Akhir Nasional. Hal ini berarti tidak perlu lagi ada guru yang masih mempertentangkan perlu ada UN atau tidak.

Sekarang yang perlu kita pertanyakan bersama apakah hal hal di atas sudah terrealisasi atau paling tidak apakah kita sudah menuju kesana. Dari berbagai informasi dan pengamatan yang ada :

  1. Belum banyak guru melakukan perubahan dalam cara mereka mengajar. Mereka masih seperti yang dulu.
  2. Belum banyak guru yang ingin mengikuti pelatihan pelatihan untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya tergerak dari dirinya sendiri dengan biayanya sendiri. Mereka masih mau ikut pelatihan kalau ditugasi dari sekolah dan dibiayai dari sekolah.
  3. Mereka juga belum banyak yang tergerak untuk memiliki buku buku yang relevan dengan kebutuhan mereka dalam meningkatkan keprofesionalannya.
  4. Mereka juga belum banyak memiliki waktu untuk meningkatkan prestasi siswa agar siap Ujian Akhir Nasional dengan tulus dan ikhlas hati tanpa harus menghitung berapa fee yang harus mereka terima.
  5. Sertifikasi menjebak guru dalam lingkaran kompetensi administrasi yang penuh dengn manipulasi. Guru calon peserta sertifikasi akan selalu berkutik pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya normatif dan bukan lagi pengembangan metode pembelajaran di kelas. Guru akan terus mengumpulkan portofolio dan bukan berusaha mengembangkan diri untuk kegiatan pembelajaran yang bermutu.

Dari fakta yang ada, berarti perlu ada rumusan yang konkret agar tujuan pemerintah baik untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan untuk meningkatkan kualitas guru dapat terpenuhi. Ini berarti harus ada instrumen-instrumen yang harus dibuat untuk mengevaluasi kinerja guru. Dan instrumen-instrumen tersebut selayaknya dibuat oleh tim yang terdiri dari guru, kepala sekolah dan expert supaya hasilnya dapat mewakili semuanya. Dan evaluasi tersebut diberikan secara kontinyu setiap tahun, sehingga peningkatan kualitas guru dapat dipantau setiap tahun dan akhirnya pemerintah dapat melihat kendala kendala yang ada dan akhirnya pemerintah dapat mencari solusinya. Kalau ini dilakukan dengan benar, maka dapat diyakini kualitas pendidikan akan dapat meningkat dan tidak ada lagi orang yang akan mempersoalkan tentang UN. Dan akhirnya TPP BENAR BENAR TIDAK HANYA MENJADIKAN GURU KAYA HARTA TETAPI JUGA KAYA ILMU.

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.